Pray, Faith, Love

Jangan pernah berdoa meminta kekayaan untuk membantu orang-orang miskin
Karena bisa jadi engkau dimiskinkan dahulu untuk menjiwai kemiskinan itu sendiri.

Jangan pernah berdoa meminta diberikan jodoh yang baik
Karena bisa saja dihadirkan padamu orang-orang jahat terlebih dahulu untuk bisa mengerti arti sebenarnya dari kebaikan.

Jangan pernah berdoa meminta ditunjukkan jalan yang lurus
Karena mungkin saja engkau disesatkan di jalan yang terjal dan berliku, sebelum mengenal apa dan siapa jalan yang lurus.

Jangan pernah berdoa meminta ampun kepada Tuhan
Karena bisa jadi engkau diberikan kesenangan untuk menguji benarkan engkau sungguh-sungguh mengingat-Nya?

Meminta itu mudah. Yang sulit adalah menjalani proses menuju tempat permintaan itu dikabulkan.
Karena proses itu adalah tempatnya makna, sehingga akal memahami dengan sempurna bagimana bentuk terkabulnya doa.


Bukan...tulisan diatas bukan tulisan saya pribadi..hahaha..tulisan diatas adalah tulisan dari salah satu buku yang sedang saya baca "Tuhan dalam secangkir kopi", penulisnya Denny Siregar.
Yang mengikuti perkembangan politik, pasti tau siapa dia. Saya sangat suka sekali tulisan-tulisan dia. Maknanya sangat dalam, jujur, sistematis dan pola pikir yang sangat saya kagumi. Bahkan saya sampai berpikir, "Gilaa ya...dia bukan orang Kristen, tapi cara pikirnya hampir mirip sama orang Kristen". Salut...angkat topi :)

Aniwei...tulisan dia yang satu ini membuat saya tergelitik juga untuk membahas apalagi kalau bukan tentang doa...hehehe...
Cukup lama juga bagi saya sejak remaja untuk benar-benar paham mengenai doa.
Doa yang katanya nafas hidup orang Kristen, tapi nyatanya terkadang hanya menjadi selingan semata.
Doa yang katanya relasi dengan Tuhan, tapi nyatanya diisi dengan aku, aku, dan aku.
Doa yang katanya tindakan iman, tapi nyatanya tetap setelah doa kita menggunakan kekuatan kita sendiri untuk menghadapi hidup.

Ketika saya kelas 2 SMP, saya pernah berdoa selama 7 tahun. Saya mendoakan keluarga saya yang diambang kehancuran. Tiaaap hari isi doa saya sama, "Tuhan, tolong supaya papa mama bisa rukun lagi".
Dan, sampai satu titik, saya lelah berdoa.
Doa saya nggak pernah dijawab sama Tuhan.
Apa yang saya pikir bisa berubah lewat doa, ternyata nggak ada perubahan apapun bahkan sampai sekarang.
Dan, setelah 7 tahun itu pula, saya berhenti mendoakan papa mama saya. Saya berhenti berdoa ketika saya awal kuliah S1.

Apa yang lo rasakan saat itu Nda? Hmm...entahlah...cape, lelah, ga ada harapan, kecewa, daann...pada akhirnya saya skeptis. Saya nggak percaya lagi ke Tuhan,
Noo...saya bukan ga percaya Tuhan sama sekali, tapi saya nggak percaya Tuhan bisa mengubah keluarga saya.
Hahaha...ternyata iman saya cuma segitu saja. Ternyata punya iman sebesar biji sesawi itu susah yaa...walaupun biji itu sangat keciiiiilllll sekali, tapi toh nyatanya Tuhan tau beriman yang sekecil itu aja susah.

Saya jadi ingat pernah mendengar khotbah dari Matius 15:21-28, tentang Perempuan Kanaan yang percaya. Anaknya kerasukan setan dan dibilang sangat menderita. Kurang lebih percakapannya seperti ini :

P1  : "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat            menderita".
T1  : (Silent)
M  : "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak"
T2  : "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel".
P2  : "Tuhan, tolonglah aku".
T3  : "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada                   anjing".
P3  : "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya".
T   : "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki."

Dan abis itu anaknya sembuh.

Menarik ketika pembicara tersebut membahas 3 respon Tuhan dan 3 respon perempuan ini.

Respon Tuhan :
T1. Tuhan diam, nggak dipeduliin permintaan perempuan itu
T2. Tuhan malah berespon ke murid-muridNya
T3. Tuhan menguji perempuan itu. Anak-anak melambangkan Israel dan anjing menggambarkan perempuan itu.

Respon perempuan tersebut :
P1, Dia ga pergi, justru mengikuti terus sampai berteriak
P2. Ayat 25 > dia mendekat, menyembah. Penolakan demi penolakan dari Tuhan bukan bikin dia lari, tapi mendekat
P3. Sadar siapa diri dia. Setuju, saya ini hanya anjing

Can you imagine???
Anaknya sakit, mungkin dia uda pergi ke kuil tapi nggak dapet jawaban. Nah ini Tuhan lagi dateng ke Tirus dan Sidon, ada pengharapan baru, tapi yang didapat justru tekanan baru.

Saya jadi bertanya-tanya...Seandainya...seandainya kita datang ke Tuhan dengan masalah kita, di respon keberapa Tuhan menghancurkan iman saya?
Saya harus berani jujur..bagi saya sendiri ketika dapet pertanyaan itu, Tuhan menghancurkan iman saya di respon yang pertama. Hiks...sedih mengakuinya...
Tuhan diem, Tuhan nggak jawab doa saya aja sudah cukup membuat saya mundur dan menghancurkan iman saya.

Saya jadi belajar dari respon perempuan ini, tekanan semakin besar, justru imannya semakin besar juga. Dan saya dapat pemahaman baru...bahwa iman bekerja seperti wiper pada mobil. Semakin badai besar, wiper kita akan semakin maksimal. Tapi dalam kenyataannya, justru seringkali ketika ada badai dalam hidup kita, tekanan datang, kita matiin itu wiper dan tidak lagi percaya ke Tuhan, bahkan mencurigai kebaikan Tuhan. (Ini gueee bangeettt... T.T). Di respon pertama, masih ada agenda dari perempuan itu yang dibawa "anak gw harus sembuh".

Di respon kedua perempuan ini (P2), dia menghapus "permohonan doa" nya, agendanya hilang, dan mulai sadar siapa dirinya, siapa Tuhan. Dia hanya bilang, "Tuhan, tolonglah aku". Dia ga minta anaknya disembuhkan lagi. Isi permohonannya hilang, diganti kesadaran siapa Tuhan. Dan sampai respon ke tiga (P3), dia hanya berani menyetujui bahwa dia hanya seekor anjing dan tidak lagi mengucapkan tuntutan dalam doanya.

Woow...luar biasa banget yaa respon ini?? Saya sampai kagum ketika mendengar dan mencoba men-digest perikop ini. Saya kembali harus banyak belajar mengenai hal ini.

Hal menarik laiinya ketika membahas perikop ini adalah hanya 2 ayat yang membahas "isi permohonan" (ayat 22 dan ayat 28)
Lalu apa isi ayat 23-27 donk kalau gitu? Ini nih yang penting...dalam 5 ayat tersebut, Tuhan menggarap "pemohonnya", bukan "permohonannya"
.
Keren yaaa Alkitab itu? Hehehe...dan saya lebih seneng lagi tau kebenaran ini. Amaze bangeett sama Tuhan.
Dengan kata lain, buat Tuhan itu jauuuhhhh lebih penting menggarap si pemohon, daripada kenyamanan kita dilepaskan dari persoalan hidup.
Allah lebih tertarik membentuk kita, dibandingkan melepaskan persoalan kita.

Soo...apa setelah lo doa tentang keluarga selama 7 tahun, lo merasa digarap sama Tuhan Nda?
hmm...saya harus bilang, "Bangeeettt...saya digarap bangeett.." walaupun mungkin saya nggak sadar yaa...tapi respon saya berubah.
Tuhan menggarap saya bagaimana menghadapi persoalan ini..
Tuhan menggarap saya memiliki pemahaman dari sudut pandang baru tentang keluarga
Tuhan menggarap saya sampai akhirnya saya bisa menerima kondisi yang ada
Tuhan menggarap saya untuk menolong orang lain yang mengalami hal serupa

Kembali kepada kata-kata Denny Siregar diatas,
Meminta itu mudah. Yang sulit adalah menjalani proses menuju tempat permintaan itu dikabulkan.
Yup...meminta itu mudah. Kita bisa minta apa aja ke Tuhan lewat doa kita. Apapun...
Tapi...menjalani proses menuju tempat permintaan itu dikabulkan menurut Tuhan (bukan menurut kita) itu yang sulit...Proses didiamkan. Proses diberi tekanan lebih. Proses dihancurkan.

Karena proses itu adalah tempatnya makna, sehingga akal memahami dengan sempurna bagimana bentuk terkabulnya doa.
Yup..proses itu adalah tempatnya makna. Ketika diproses Tuhan, disitulah makna sesungguhnya. Tuhan bisa sama sekali nggak mempedulikan isi doa kita. Tapi yang Dia pedulikan adalah kita. Pembentukan jauh lebih penting buat Tuhan...sampai akhirnya akal kita memahami dengan sempurna bagaimana bentuk terkabulnya doa...
Bentuknya bisa berarti sampai kita mengenal siapa kita...siapa Tuhan...

Apa yang menjadi masalah, akan tetap menjadi masalah.
Tidak ada jawaban yang mengubah keadaan kita, tidak ada jawaban yang mengambil persoalan-persoalan kita.
Tuhan tidak mengambil itu semua. Tuhan membiarkan itu tetap ada.
Krisis yang kita bawa kepada Tuhan mungkin malah akan semakin menjauh dari yang namanya pencarian akan sebuah kenyamanan, tapi ada yang Tuhan ubah disana.
Tuhan sedang menggarap si pemohon...Tuhan sedang menggarap kita...saya...kamu...
Karena sejatinya, krisis itu Dia pakai untuk membentuk apa yang Dia mau dalam hidup kita...

Pertanyaannya: Ketika kesulitan kita bawa ke hadapan Tuhan, dan ternyata Tuhan tidak menjawab kita, malah makin keras, makin berliku dan makin panjang, makin menyakitkan cara Dia bersikap kepada kita, apakah Dia akan menjumpai iman saya semakin besar? Apakah semakin mampu kita merendah dihadapan Dia? Dan makin besar Kristus memenuhi hidup kita?

1 Response
  1. Suka tulisannya Ka! <3